3 Kiat Menjaga Kelembutan Hati


1. Larangan banyak bicara.
            Banyak bicara dapat mengeraskan hati seperti yang telah dikatakan Ibnu Qayyim dalam kitabnya "Tazkiyyatun Nufus". Bila hati telah mengeras ia menjadi susah untuk menerima al-haq (kebenaran). Oleh karena itu banyak hadits dan atsar dari Rasululloh saw yang menunjukkan larangan banyak bicara, ancaman bagi mereka yang tidak menjaga  lisannya, serta menetapkan bahwa diantara sekian tanda keimanan seseorang kepada Alloh dan hari akhir adalah berkata benar, jikalau tidak bisa lebih baik diam.!!!

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, قَالَ : قَالَ رَسُلُ اللهِِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم, قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًاً أَوْ لِيَصْمُتْ .............  (رواه البخاري و مسلم)
Abu Huroiroh ra. Berkata bahwa sesungguhnya rasululoh saw. Bersabda, "Barangsiapa berimankepada Alloh dan kepada hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam …………." (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim)
و جَاءَ فِي الْبُخَارِي, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, قَالَ : منَْ ضَمَنَ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنَ لَهُ الجَنَّة (6474)
Riwayat Bukhori : Rasululloh saw. Bersabda, "Barangsiapa yang bisa menjaga apa yang ada diantara kedua bibir, dan yang diantara kedua pahanya, maka aku menjamin baginya jannah".
عَنْ مُعَاذِ بنِ جَبَل : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْه وَسَلَّم, قَالَ : و هَلْ يَكُبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَئِدَ أَلْسِنَتِهِمْ 
(أخرجه البخاري و مسلم)
Mu'adz bin Jabal ra. Berkata bahwa Rasululloh saw. Bersabda, "dan apakah yang  menyebabkan manusia dineraka ditelungkupkan wajahnya, kecuali karena akibat perbuatan-perbuatan lisan mereka". (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim)
عَنْ عُقْبَة بنْ عَامِرْ, أنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صّلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنِ النَّجَاةِ ؟ فَقَالَ : أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ (أخرجه الترمذي)
'Uqbah bin 'Amir ra. Bertanya pada Rasululloh saw. Mengenai keselamatan ? maka Rasululloh menjawab : Jagalah dengan baik lisanmu !" (Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi)
            Larangan ini tidak mencakup didalamnya perkataan-perkataan yang baik dan yang mendatangkan kemaslahatan. Bahkan bila seseorang mengucapkan suatu kalimat yang dapat mendatangkan keridhoan Alloh, maka Alloh akan menuliskan bagi orang tersebut keridhoanNya sampai pada hari dimana ia bertemuNya :
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا كَانَ يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ, يَكْتُبُ الله لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ الله مَا كَانَ يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغْتَ, يَكْتُبُ الله بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
(رواه الترمذي و ابن ماجه و أحمد)
            Termasuk dalam pembahasan ini adalah banyak bertanya, apalagi yang berkenaan dengan syari’at. Para sahabat tidak banyak tanya saat Rasululloh menerangakan kepada mereka syari’at islam. Yang ada mereka adalah “sami’na wa atho’na”. berkebalikan dengan kaum yahudi, saat nabi mereka mereka pada sesuatu, mereka banyak tanya, sehingga itu justeru menyulitkan diri mereka seandiri. Sepereti kisah penyembelihan sapi betina yang ter kenal itu.
            Termassuk juga pembicaraan yang menyeret pada “qiila wa qoola”, yang menyebabkan ia banyak berbuat kesalahan hingga pada akhirnya mengundang kemarahan Alloh.

2.    Menganggap remeh perbuatan dosa.
            Nabi saw bersabda :
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ, وَلَكِنَّهُ رَضِيَ مِنْكُمْ بِمَا تَحْقِرُوْنَ
Diriwayatkan pula oleh Abu Huroiroh ra. Rasululloh saw. Bersabda, "Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk dapat disembah dibumi kalian ini. Akan tetapi dia cukup gembira jika kalian dosa-dosa yang kalian anggap remeh." (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Bazzar)
            Hadits dimuka mencela perbuatan menganggap remeh dosa. Karena semakin sering orang melakukan dosa maka akan semakin menggunung dosa yang dikumpulkannya dan menjadi besar.
            Berkenaan dengan hati yang dilumuri dosa, Ibnu Qayyim menjelaskan pada mulanya hati itu bagaikan cermin yang bersih dan mengkilat. Kemudian, bila seorang hamba melakukan kemaksiatan, maka jatuhlah noktah hitam diatasnya.
Semakin banyak maksiat yang ia kerjakan, semakin banyak pula noktah-noktah yang terjatuh, sehingga jadilah kaca yang mulanya bening itu hitam kelam dan tak bisa lagi untuk berkaca. Dan hatipun menjadi mengeras.
            Abdulloh bin Mas’ud berkata : “ Sesungguhnya seorang mu’min melihat dosanya seakan-akan ia duduk dibawah gunung, hingga ia takut kalau-kalau gunung itu akan jatuh maenimpanya. Sedangkan seorang yang fajir melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat didepan hidungnya!” (riwayat Bukhori 6308)
Inilah perbedaan antara orang mu’min dan orang fajir dalam menyikapi dosa.
            Dan perlu diingat : menganggap remeh dan menganggap kecil dosa akan menyebabkan seorang hamba terhalang dari taubat. Dan akan menyegerakan perbuatan dosa besar ataupun kecil.
Taswif juga merupakan tipu daya syetan terhadap manusia, hingga terkumpullah dosa padanya dan pada akhirnya pun, ia tak memiliki kemampuan untuk melepasksan diri darinya. Maka jatuhlah ia dalam tawanan syetan yang akan menggirinnya pada neraka Jahannam.
            Bila seorang hamba menganggap besar sebuah dosa, niscaya dosa itu kecil dalam pandangan Alloh , karena sikap itu muncul dari kebencian hati dan rasa tidak suka terhadap dosa. Sedang rasa benci itu akan mencegahnya dari pengaruh buruk dosa-dosa tersebut.
            Sedangkan sikap menganggap remeh muncul dari rasa senang kepada dosa, dan itu akan mempengaruhi hati. Hati yang baik adalah hati yang diterangi oleh ketaatan, dan hati yang tidak baik adalah hati yang diselimuti oleh dosa-dosa.

3.    Larangan hidup mewah.
            Diriwayatkan Mu’adz bin Jabal, ketika beliau diutus Rosululloh saw ke Yaman. Rosul bersabda :
إِيَّاكَ وَالتَّنَعَُمَ, فَإِنَّ عِبَادَ الله لَيْسُوْا بِالْمُتَنَعِّمِيْنَ  (حديث صحيح رواه أحمد)
“Jauhilah kehidupan mewah, sesungguhnya hamba-hamba Alloh , bukanlah orang-orang yang hidup mewah.”  (Hadits shohih diriwayatkan Ahmad)
            Para salaf terdahulu memiliki ciri khas tersendiri, mereka zuhud terhadap dunia, sehingga mereka mendapatkan kecintaan Alloh. Mereka wara’ terhadap perkara-perkara syubhat. Sehingga kita dapati Umar bin Khattab figur seorang pemimpin yang patut dicontoh, sering melakukan patroli untuk melihat dari dekat kondisi rakyatnya. Bahkan ketika Hurmuz (pangeran persia) ditawan dan dihadapkan pada beliau, Hurmuz terperangah kaget melihat pemimpin besar kaum muslimin (kaum yang mempecundangi bangsanya) tidur di masjid tanpa satu pun pengawal yang menyertai, tanpa alas dan hanya berbantalkan tongkat. Oleh karenanya, Alloh mencintai beliau dan para manusia juga amat mencintainya.
Para ulama’ mengatakan : manusia yang yang paling berakal adalah orang-orang yang zuhud, sebab mereka mencintai apa yang dicintai Alloh dan membenci apa yang dibenci Alloh (berupa mengumpulkan perkara-perkara duniawi). Dan mereka orang-orang zuhud dapat hidup dengan santai.
            Berbeda dengan orang yang hidup bermewahan atau foya-foya. Kehidupan mereka selalu disibukkan baik sibuk dengan maksiat, sibuk mencari harta, dan sibuk menjaga harta itu sendiri. Maka kita dapati orang-orang yang terjerumus dalam fitnah ini, mereka tidak memiliki waktu untuk sekedar mengingat Rabbnya, otak mereka hanya tercekoki glamour dunia. Sehingga hati mereka terasa sempit, hati mereka hitam kelam dan mengeras. Tak jarang kitas temukan dari mereka dikarenakan tidak menemukan ketenteraman batin, lantas bunuh diri.
            Tapi bukan berarti islam melarang kita mencari dunia. Tidak !! yang dimaksud dengan dunia tercela adalah, mencari yang melebihi kebutuhan. Adapun mencari kebutuhan adalah wajib. Sebagian ulama’ menambahkan : “ Mencari dunia sekedar keperluan bukanlah termasuk dari bagian dunia. Yang dimaksud dengan dunia adalah yang melebihi keperluan. Mereka mengambil dalil dari ayat al-Qur’an :
z`Îiƒã Ĩ$¨Z=Ï9 =ãm ÏNºuqyg¤±9$# šÆÏB Ïä!$|¡ÏiY9$# tûüÏZt6ø9$#ur ÎŽÏÜ»oYs)ø9$#ur ÍotsÜZs)ßJø9$# šÆÏB É=yd©%!$# ÏpžÒÏÿø9$#ur È@øyø9$#ur ÏptB§q|¡ßJø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur Ï^öysø9$#ur 3 šÏ9ºsŒ ßì»tFtB Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ª!$#ur ¼çnyYÏã ÚÆó¡ãm É>$t«yJø9$# ÇÊÍÈ
14.  Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
(Qs: Ali Imron : 14)

            Jika manusia bergembira dengan dunianya untuk berbangga dihadapan manusia, ini jelas perbuatan tercela. Namun jika ia bergembira dengan dunia karena ia merasakan hal itu sebagai anugerah atau karunia Alloh kepadanya, maka hal itu terpuji.
            Umar RA. Berkata : “ Ya Alloh, kami tidak bisa bergembira kecuali dengan apa yang telah engkau anugerahkan pada kami “
            Alloh dan RosulNya mencela perbuatan foya-foya dan hidup mewah, berkebalikan dengan itu, Alloh dan RosulNya memuji kepada manusia yang bersahaja dalam hidup, sebagai ciri dari seorang ‘ibadurrahman.
tûïÏ%©!$#ur !#sŒÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèù̍ó¡ç öNs9ur (#rçŽäIø)tƒ tb%Ÿ2ur šú÷üt/ šÏ9ºsŒ $YB#uqs% ÇÏÐÈ
67.  Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(Qs: Al-Furqan : 67)
Demikian ! Wallahu A'lam.

Daftar maroji’ :
¨       Al-Qur’an Al-Karim
¨       Mausu’ah al-manahy asy-syar’iyyah fi sahihis sunnan an-Nabawiyyah
¨       Syarh hadits arba’in an-Nawawiyyah.
¨       Fathul Baary.
¨       Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram

0 komentar:

Posting Komentar